Menempatkan Bawang di Dapur

oleh: Devi F. Yuliwardhani

menyimpan bawang di dapur

Memasak bukan perkara resep saja lho . Tapi juga bagaimana Anda meletakkan bumbu dapur Anda.

Bagi Anda yang senang memasak, tentu tidak asing dengan bumbu dapur ini, bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai. Eits , tapi jangan salah, kali ini saya bukan akan membagi tips atau resep untuk memasak tapi bagaimana meletakkan bumbu dapur itu di dapur Anda.

Bawang adalah bumbu dasar yang sering dipakai untuk memasak. Dalam tumbuhan ia dikategorikan dalam jenis umbi-umbian. Membuatnya tetap awet di dapur terbilang susah. Jika disimpan di kulkas dan didinginkan dapat menjadi mengembun dan basah, sedangkan jika lembap cenderung cepat busuk. Bumbu dapur ini sebaiknya diletakkan di udara terbuka, tapi bukan berarti dibiarkan tergeletak begitu saja loh .

Ayo kita intip kreasi Mariana Tan ini. Ibu rumah tangga yang gemar memasak ini memang banyak menghabiskan waktunya di dapur. Tidak heran kalau dia ingin membuat dapurnya senyaman mungkin. Termasuk dalam meletakkan bawang yang seringkali digunakan memasak.

“Bawang itu kan kalau lembap cepat busuk, tapi juga tidak bisa dibiarkan tergeletak begitu saja. Harus mudah untuk dijangkau,” kata Mariana.

Ia pun berkreasi dengan dapurnya.Idenya sederhana saja. Area sudut meja kerja yang kosong diolah menjadi tempat bawang yang unik. Dibuatlah wadah segitiga siku-siku yang mengisi sudut itu. Wadah itu dibuat bersusun tiga. Masing-masing untuk bawang putih, bawang merah, dan bawang bombai. Agar tampil kompak dengan kitchen set  dapur, bahan dan warnanya ia buat senada.

Bumbu dapur utama pun kini punya tempat yang tepat. Sederhana tapi fungsional, dan unik kan ? Memasak pun jadi lebih menyenangkan!

Foto: Licco Indrawan

Advertisements

Open Kitchen, Siapa Takut?

oleh: Anissa Q. Aini

Open Kitchen, Siapa Takut?

Dapur terbuka atau open kitchen , biasa ditemui di restoran atau cafe. Mengapa tidak mencoba mengaplikasikan ide ini di rumah?

Belakangan banyak restoran dan cafe di Indonesia menggunakan konsep open kitchen . Konsep ini rupanya dianggap dapat menarik lebih banyak konsumen. Dengan konsep dapur terbuka seperti ini, setiap kegiatan di dalamnya, bisa terlihat oleh pelanggan. Mulai dari kegiatan menyiapkan bahan, hingga mengolahnya menjadi makanan. Konsep demikian juga bertujuan untuk menunjukkan kualitas bahan dan pengolahan makanan, dari restoran atau cafe yang bersangkutan.

Konsep open kitchen  terbilang unik, mengingat di Indonesia, masih banyak orang beranggapan bahwa dapur tabu dilihat oleh tamu. Seiring berkembangnya zaman, dalam kehidupan modern terutama di perkotaan, anggapan demikian sudah tak lagi berlaku. Menjamu tamu langsung di dapur, sudah bukan lagi hal aneh. Meski demikian masih segelintir orang yang berani mengaplikasikan konsep open kitchen, di rumah.

Dapur berkonsep terbuka memang memiliki beberapa tantangan. Salah satunya adalah pemilik dapur, harus menjaganya tetap bersih dan rapi. Pasalnya, setiap sudut dapur akan terlihat jelas oleh siapapun yang melaluinya. Rasa malu dan tak nyaman tentu akan timbul, jika dapur terlihat kotor dan berantakan.

Biasanya dapur berkonsep demikian ditempatkan berdekatan atau bersebelahan dengan ruang publik, seperti ruang keluarga. Sebagai pembatas, digunakan dinding kaca. Bisa juga dengan membuat konsep bar, yang pasti dengan konsep open kitchen , setiap kegiatan di dapur dapat terlihat jelas.

Salah satu tips membuat open kitchen  yang “aman”, terutama bagi mereka yang belum percaya diri mengaplikasikannya, adalah dengan membagi dapur menjadi dua area, bersih dan kotor. Dapur bersih cenderung jarang berantakan, karena kegiatan yang berlangsung di sini, biasanya hanya seputar menyajikan makanan. Oleh karena itu, dapur bersih bisa “dipamerkan” dengan konsep terbuka. Sedangkan dapur kotor, dimana banyak kegiatan yang meninggalkan kotoran, bisa tetap “tersembunyi.”

Open kitchen , selain unik, juga menjadi salah satu solusi membuat ruangan terasa lebih lega. Ruangan-ruangan yang dibuat menerus, atau menggunakan pembatas transparan, akan tampak lebih luas. Bagi mereka yang tinggal di apartemen, konsep ini bisa jadi pilihan jitu.

Sensasi Desain Kontemporer di Dapur Merah Putih

oleh: Indra Zaka Permana

Sensasi Desain Kontemporer di Dapur Merah Putih

Banyak orang suka dengan warna merah putih. Terlihat semakin keren dengan memanfaatkan desain kontemporer yang bermain dengan bentuk baru.

Bosan dengan dapur berbentuk ”L”, ”I”, atau ”U”? Inilah saat yang tepat untuk memanfaatkan konsep kontemporer yang mewadahi aktivitas khusus dalam solusi desain yang penuh makna baru.

Desain kontemporer dapur ini mewadahi aktivitas ekstra dimana dapur tak hanya menjadi tempat memasak, namun juga menjadi ”etalase” gaya hidup berinteraksi. Konsep interaksi inilah yang diwujudkan dalam desain dapur kontemporer dengan permainan bentuk dapur yang  tak lagi hanya bermain dengan unsur kotak. Unsur garis vertikal, horisontal, dan diagonal menjadi bagian dari desain dapur.

Unsur garis terlihat dalam bingkai-bingkai alumunium yang melingkari kaca sandblast kabinet dapur. Unsur garis ini menjadi penguat kesan fungsional dapur yang juga mewadahi aktivitas rutin seperti memasak dan membersihkan alat makan dan alat masak.

Warna merah dan putih mendominasi ruangan. Warna merah putih ini nyaman dipandang,  karena menguatkan atmosfer interaktifitas  yang  ada di ruang dapur sekaligus ruang makan ini. Aksen lantai kayu juga terlihat membuat elegan tampilan dapur. Desain yang inspiratif, bukan?

Foto: Dok. iDEA

Optimalisasi Ruang di Bawah Sink

oleh: Diski Parasayu

Optimalisasi Ruang di Bawah Sink

Ternyata ruang di bawah sink dapat dimanfaatkan secara optimal.

Jika ingin semua barang tersimpan rapi, memanfaatkan setiap sudut di rumah mungil adalah suatu keharusan. Prinsip ini juga berlaku untuk dapur. Jika dapur Anda mungil, tentu Anda perlu memanfaatkan tiap ruang yang tersedia untuk menyipan beragam peralatan dapur.

Salah satu ruang yang agak sulit dimanfaatkan adalah area di bawah sink . Selain karena adanya pipa,  area tersebut biasanya juga lembap.

Cara termudah untuk memanfaatkan area di bawah sink adalah membuat kabinet dengan pintu kabinet biasa. Kelemahannya, agak sulit menjangkau area di bagian belakang karena terhalang pipa. Cara lain adalah dengan menggunakan rak besi berbentuk setengah lingkaran yang bisa berputar. Rak jenis ini tersedia di pasaran. Porosnya dipasang di bagian tengah daun pintu kabinet. Sayangnya, rak ini hanya bisa digunakan pada kabinet dengan dua daun pintu. Selain itu, satu daun pintu tempat poros rak besi biasanya tidak bisa dibuka.

Desainer dari Indawo Kitchen punya cara lain untuk menyiasati ruang di bawah sink itu. Pintu kabinet diganti dengan laci yang berlubang di bagian tengah. Meski simpel, cara ini mungkin tak terpikirkan sebelumnya. Piring kecil atau sendok bisa disimpan di sini, Anda pun tak perlu berjongkok untuk meraihnya. Praktis, ya.

Foto: iDEA/ Richard Salampesy

Pentingnya Jendela di Dapur

oleh: Indra Zaka Permana

Pentingnya Jendela di Dapur

Aliran udara dan cahaya adalah unsur penting yang membuat dapur jadi nyaman. Maka, keberadaan jendela di dapur menjadi penting.

Memasak memang mengasyikkan. Kita bahkan bisa lupa waktu saat memasak masakan kegemaran. Namun apa jadinya jika aktivitas ini justru membahayakan kesehatan? Oksigen yang terbakar oleh api kompor tak tergantikan oleh aliran udara baru, hingga ruangan jadi sumpek.

Untuk itulah, adanya jendela mengurangi buruknya kualitas udara di dapur. Selain udara, jendela pun meneruskan cahaya yang bisa menerangi dapur dan mencegah udara di dapur jadi lembap. Kelembapan udara bisa menumbuhkan organisme yang  merugikan di dapur.

Jendela di dapur bisa Anda letakkan di area dapur yang lebih lembap, yaitu di area cuci. Ukuran jendela bisa disesuaikan dengan lebar area mencuci. Anda bisa menempatkan jendela berkaca mati, tanpa engsel, namun sebaiknya tetap memiliki lubang udara yang meneruskan aliran udara dari luar ruangan.

Lubang udara di bagian atas bermanfaat untuk mengeluarkan udara panas yang mengalir  ke bagian atas.  Jangan lupa untuk selalu membersihkan jendela dalam kurun waktu maksimal 3 bulan sekali. Hal ini harus dilakukan karena seringkali uap minyak menempel di lubang dan merusak kusen jendela.

Foto: iDEA/Tri Rizeki Darusman

Dapur Higienis, Nyaman untuk Berakhir Pekan

oleh: Indra Zaka Permana

Dapur Higienis, Nyaman untuk Berakhir Pekan

Dapur bersih bisa menjadi tempat yang nyaman  untuk menghabiskan waktu di akhir pekan. Ruang yang efisien dan desain yang serba bersih adalah kuncinya.

Aktivitas memasak tak hanya berkutat dalam hal urusan mengolah sayur dan daging jadi  masakan.  Berinteraksi dengan bahan masakan, ialat masak, bahkan dengan kerabat adalah sebuah seni tersendiri. Itulah yang dirasakan pasangan suami istri Kiki Asrina dan Rasyid Nauval. Dapurnya adalah tempat terpenting di akhir pekan. Kiki gemar memasak disaat libur tiba, mengolah dan menyajikan masakan favorit berupa balado ikan selar dan sayur asem.

Dapur terlihat rapi, dengan kabinet yang serba tertutup dan dibungkus finishing High Pressure Laminate ( HPL). Tiga buah lampu menggantung di atas area sarapan. Area sarapan yang cukup lega untuk bisa digunakan dua orang bahkan bisa ditambah satu anak .

Kiki dan Rasyid mengutak-atik sendiri konsep dapur dan penempatannya.  Desain dan pengerjaannya dipercayakan ke Mustikaningrum, desainer dari K.ya Design, konsultan interior yang banyak mengerjakan proyek-proyek hunian dan perkantoran. Dapur diletakkan di area belakang agar di area depan  dapur bisa dipergunakan sebagai ruang makan. Dapur ini memang jarang digunakan, namun penting keberadaannya, karena memasak adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi kiki untuk dilakukan di akhir pekan.

Dapur dibuat sehigienis mungkin, dengan mengurangi resiko menempelnya debu di area dapur. “Kabinet sengaja saya buat tinggi hingga plafon, agar terlihat lebih clean dan debu tak bersarang di sisi atas kabinet.  Biasanya kan kabinet atas  tak setinggi ini, tapi justru ini yang saya inginkan,” ujar Kiki menjelaskan desain kabinet tinggi hingga menempel di plafon.

Foto: iDEA/ Richard Salampessy&Aisah Puji

Kitchen Sink Tersembunyi di Belakang Pintu

oleh: Devi F. Yuliwardhani

Kitchen Sink Tersembunyi di Belakang Pintu

Siapa sangka, dibalik pintu ada kitchen sink . Tersembunyi, menambah rapi.

Lemari biasanya identik dengan baju atau perkakas, tapi lemari yang ini berbeda. Isinya kitchen sink  yang berfungsi untuk mencuci piring. Sukendro Priyoso, arsitek yang mendesain interior apartemen mungil ini, memang membuat desain yang simpel dan rapi. Tidak ada barang elektronik maupun perkakas rumah tangga yang tercecer. Semua tersembunyi dibalik pintu lemari.

Ukuran lemari tidak luas. Panjang dan lebarnya kurang dari 1m. Agar tak sempit, di balik kitchen sink  diberi cermin. Noda bekas kotoran yang menempel pun lebih mudah dibersihkan. Di atas lemari dipasang lampu dengan cahaya warm white . Mencuci piring di dalam lemari pun tetap nyaman karena mendapatkan pencahayaan yang cukup.

Lemari mungil ini rupanya dulu adalah sebuah bak di kamar mandi. Setelah renovasi letak kamar mandi digeser, dan fungsinya diubah menjadi tempat mencuci. Ruang yang dimanfaatkan tak hanya bagian horisontal saja, tetapi juga sisa ruang diatas kitchen sink . Lemari yang dibuat setinggi plafon ini, bagian atas digunakan untuk menyembunyikan exhaust fan . Tak hanya itu bagian belakang kitchen sink pun dimanfaatkan untuk menyimpan perkakas.

Nah, walau kecil dan tidak terlihat ternyata banyak fungsi ya. Pasti cocok untuk ruangan mungil Anda. Inspiratif!