PEMBERIAN MOTIVASI BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN MINAT BELAJAR PADA SISWA KELAS X GAMBAR BANGUNAN DI SMKN 6 MALANG

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan tentunya memiliki beberapa kebutuhan. Kebutuhan tersebut dibedakan antara kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Dari semua macam kebutuhan, kebutuhan primerlah yang harus dipenuhi oleh manusia agar bisa bertahan hidup. Kebutuhan primer itu meliputi sandang, pangan dan papan. Dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia membutuhkan suatu keterampilan tertentu. Keterampilan tersebut bisa diperoleh dari pendidikan. Pendidikan adalah proses dimana seorang anak didik mengembangkan pengetahuan dan menambah wawasan disiplin ilmu. Pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu pendidikan formal, informal, dan non formal. Pendidikan formal dapat diperoleh dari sekolah, sedangkan informal dapat diperoleh dari les atau bimbingan dari lembaga, sedangkan non formal dapat diperoleh dari keluarga atau masyarakat sekitar.
Seperti disebutkan diatas, bahwa pendidikan formal dapat diperoleh dari sekolah. Sekolah berperan penting dalam mencerdaskan anak bangsa. Serta meningkatkan harkat dan martabat seseorang tersebut.
Dalam lingkup sekolah, siswa merupakan komponen terpenting dalam proses belajar mengajar. Namun di sisi lain siswa sering memiliki masalah, baik yang berasal dari diri siswa sendiri maupun dari luar. Masalah yang berasal dari diri siswa itu sendiri misalnya kurang bisa beradaptasi dengan lingkungan, sulit menerima pelajaran, merasa rendah diri, dan lain sebagainya. Sedangkan masalah yang timbul dari luar misalnya kondisi perekonomian, keluarga, dan lingkungan sekitar. Dan terkadang siswa tidak bisa menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya.
Untuk membantu menyelesaikan suatu masalah, siswa memerlukan seseorang yang dapar dipercaya untuk itu. Layanan Bimbingan Konseling (BK) sebagai salah satu komponen integral dari keseluruhan sistem pendidikan di sekolah mempunyai prinsip dasar yang kuat sebagai landasan pelaksanaannya. Sehingga layanan BK merupakan salah satu program yang wajib dilaksanakan setiap sekolah. Program ini dilaksanakan dalam rangka mendukung pencapaian tujuan sekolah yang dilaksanakan secara efektif dan efisien. Agar layanan BK berjalan dengan baik, maka perlu ada kerjasama yang baik antara kepala sekolah, guru layanan BK, wali kelas dan siswa.
Permasalahan siswa di SMK Negeri 6 Malang tergolong sangat berat, disebabkan banyak siswa tidak naik kelas karena sering membolos sekolah. Juga banyak siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah, seperti memakai seragam yang tidak sesuai dengan ketentuan dan banyak siswa yang merokok di warung depan sekolah. Begitu juga dengan permasalahan yang terjadi di jurusan gambar bangunan, selain permasalahan diatas juga terjadi banyak siswa yang tidak minat dengan jurusan gambar bangunan. Permasalahan tidak minat dengan jurusan gambar bangunan ini juga terjadi pada klien sehingga motivasi klien untuk belajar menjadi rendah.
Aspek-aspek yang harus diperhatikan seorang guru dalam memberikan bimbingan kepada siswanya antara lain adalah kematangan berfikir siswa, bakat dan kemampuan siswa, serta lingkungan sosial siswa. Aspek-aspek tersebut harus diperhatikan agar siswa dapat menyelesaikan segala permasalahannya dengan tepat.
Studi kasus ini bertujuan untuk mengamati dan memberikan solusi kepada sekolah tentang bagaimana menghadapi siswa yang dipilih sebagai klien. Dalam hal ini penulis memilih dari kelas X Gambar Bangunan II SMKN 6 Malang sebagai klien dalam studi kasus ini.

B. PENGERTIAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING
Untuk memberikan gambaran yang mendalam tentang apa yang akan diuraikanlebih lanjut, maka perlu dikaji lebih dahulu tentang layanan Bimbingan Konseling (BK) untuk mempermudah dalam pembahasanya.
“ Layanan studi kasus kesulitan belajar adalah upaya mengenal, memahami, dan menetapkan kasus siswa dengan kegiatan mengidentifikasikan, mendiagnosis, memprognosis, dan memberikan pertimbangan pemecahan masalah”
(Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan, 2007:35)

Adapun pengertian layanan BK menurut pendapat lain:
1. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam bukunya dasar-dasar penyuluhan (Surya, 1988) mengartikan bimbingan (layanan kepada siswa adalah suatu proses pemberian bantuan secara terus menerusdari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dalam lingkungan.
2. Menurut W. S Winkel (1977) mengatakan bahwa bimbingan merupakan pemberian bantuan kepada seseorang atau kepada kelompok orang dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam menyesuaikan diri terhadap tuntutan hidupnya.
3. Menurut Mortensen (1976) mengatakan bahwa bimbingan merupakan bimbingan merupakan bagian dari program pendidikan yang membantu menyadiakan kesempatan dan layanan dari staf khusus agar semua siswa dapat mengembangkan kecakapan dan kemampuan mereka sepenuhnya sesuai dengan arti konsep demokratis.
4. Menurut Crow dan Jumhur (1975) bimbingan dapat diartikan sebagai bantuan yang diberikan oleh seseorang baik pria maupun wanita yang demikian pribadi baik yang pendidikan memadai kepada seseorang individu dari setiap usia yang menolongnya mengemudikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri dan memikul bebanya sendiri.
5. Smith dalam Mc Daniel (1959) menambahkan bahwa bimbingan sebagai proses layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memperoleh pengetahuan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat pilihan-pilihan, rencan-rencana, dan interpretasi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri yang baik.

Dari pengertian-pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa layanan BK merupakan suatu kegiatan yang akan digunakan dalam rangka mencapai dan memberikan alternative pemecahan masalah dari berbagai permasalahan yang dihadapi siswa khususnya individu, agar yang bersangkutan dapat mengenali dirinya sendiri, baik kemampuan maupun kelemahannya agar selanjutnya dapat mengambil keputusan dan dapat bertanggunga jawab dalam menentukan masa depannya serta membuka diri untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi terhadap lingkungan secara tepat.

C. TUJUAN LAYANAN BIMBINGAN KONSELING
Tujuan yang ingin dicapai dalam layanan ini adalah sebagai berikut:
1. Tujuan Umum
Untuk mengenal latar belakang pribadi siswa yang menjadi klien dalam studi kasus ini, serta memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajarnya, faktor-faktor penyebab dan penetapan kemungkinan pemecahan masalahnya, dan bagaimana seharusnya beradaptasi diri dengan lingkungan barunya tersebut.
2. Tujuan Khusus
1. Membantu klien mengetahui kesulitan dalam hal menerima pelajaran
2. membantu mencarikan solusi dalam pemecahan masalah klien
3. Membantu mengembangkan kemampuan belajar klien
4. Membantu klien mengatasi kesulitan menerima materi pelajaran,
5. Membantu mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri klien agar dapat dikembangkan secara optimal,
6. Menerima segala keluhan klien dan mencarikan solusi pemecahan masalahnya.
D. PENTINGNYA LAYANAN BIMBINGAN KONSELING
Layanan bimbingan merupakan suatu upaya untuk membantu siswa dalam pencapaian prestasi belajar semaksimal mungkin. Hala ini dapat terwujud apabila ada interaksi antara siswa dengan pemberi bimbingan tersebut, terutama bimbingan yang diberikan kepada siswa yang bermasalah tersebut.
Dengan adanya layanan Bimbingan Konseling (BK) yang dilakukan oleh mahasiswa praktikan kali ini diharapkan akan berguna juga bagi lingkungan sekolah dan penghuni sekolah, antara lain:
1. Kepala Sekolah
Menambah informasi sebagai masukan dalam menentukan kebijakan sekolah yang berhubungan dengan perencanaan dan pelaksanaan program Bimbingan Konseling di sekolah. Di samping itu juga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memonitor keadaan siswa dan kemampuan guru dalam memberikan layanan BK.
2. Konselor (Guru mata pelajaran BK)
Untuk memperkaya data tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa sehingga dapat membantu memberikan jalan terbaik bagi siswa serta sebagai acuan dalam pelaksanaan follow up terhadap siswa khususnya klien di kemudian hari.
3. Guru pamong (mata pelajaran)
Untuk mengetahui prestasi dan kesulitan yang dihadapi siswa yang berhubungan dengan mata pelajarannya, sehingga guru mata pelajaran dapat memberikan pengarahan dan pembinaan terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar dan membantu memecahkan masalah yang dihadapi sesuai bakat dan minat siswa.
4. Wali kelas
Dapat memberikan informasi sebagai masukan untuk membantu siswa dalam memecahkan kesulitan belajarnya dan juga dapat memberikan alternative terbaik dalam meningkatkan prestasi belajarnya
5. Siswa (khususnya klien)
Membantu siswa jurusan Gambar Bangunan pada mata pelajaran Kompetensi Kejuruan dalam meningkatkan prestasi belajarnya serta aspek-aspek yang ada di dalamnya.
6. Orang tua siswa (khususnya orang tua klien)
Membantu Orang tua dalam memahami serta mengerti keberadaan anaknya sebagai seorang pelajar sehingga dapat lebih mencurahkan perhatian demi pekembangan anaknya secara optimal. Dan juga dapat membimbing dan mengarahkan anaknya dalam mengambil langkah-langkah tentang kesulitan belajar di lingkungan keluarga dan bermasyarakat.

E. METODE PENGUMPULAN DATA
Data merupakan sekumpulan informasi yang nantinya dapat digunakan untuk mencapai hasil yang valid dalam menyusun laporan studi kasus layanan Bimbingan Konseling ini. Untuk memperoleh data tersebut maka mahasiswa praktikan menggunakan metode atau teknik dalam pengumpulan data.
Adapun metode atau teknik dalam pengumpulan data antara lain sebagai berikut:
1. Angket
Merupakan teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan tertulis kepada klien. Hasil isisan dari angket ini merupakan gambaran dari siswa yang sebenarnya dapat berupa latar belakang siswa, keadaan keluarganya, cita-citanya, harapanya, juga untuk memperoleh keadaan fisiknya, psikologisnya, dan sosialnya.
2. Daftar Check List
Teknik atau metode ini dilakukan dengan memberikan tanda check () pada pernyataan yang sesuai dengan kenyataan yang dialami klien, baik belajarnya, kesehatannya, mentalnya, sosialnya, dan lain-lain.

3. Observasi
Merupakan pengamatan terhadap klien yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar di dalam kelas maupun diluar kelas.
4. Wawancara
Merupakan teknik pengumpulan data dengan mengadakan komunikasi lisan secara langsung dan tidak langsung dengan klien mengenai permasalahan dan latar belakangnya, misalnya cara belajarnya, hobby, pergaulannya, dan lain sebagainya. Komunikasi secara langsung dilakukan kepada individu yang bersangkutan, sedangkan komunikasi tidak langsung dilakukan kepada orang lain untuk memperoleh keterangan mengenai siswa yang bersangkutan, antara lain: konselor, wali kelas, guru mata pelajaran, dan teman sekolahnya.

F. ALASAN PEMILIHAN KLIEN
Untuk menetapkan siswa yang akan dijadikan klien dalam studi kasus ini diperlukan beberapa informasi tentang diri klien yang digunakan sebagai bahan pertimbangan. Berdasarkan metode observasi yang digunakan praktikan selama klien mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran Kompetensi Kejuruan, Kelas X, Jurusan Gambar Bangunan, di dalam kelas maupun diluar kelas, mahasiswa praktikan beranggapan bahwa siswa tersebut memang tepat sebagai klien.
Adapun alasan yang mendasari pemilihan siswa tersebut adalah:
1. Klien terlihat lebih menonjol jika di bandingkan dengan siswi lainnya.
2. Klien kurang memahami arah dan tujuan masuk jurusan yang tengah ditempuh
3. Klien sering terlihat tidak memperhatikan pelajaran. Klien lebih suka bergurau atau menggosip dengan teman-temannya saat pelajaran berlangsung.
4. Klien tidak pernah bertanya pada guru saat menemui kesulitan dalam pelajaran. Kesulitan itu lebih sering di pendam sendiri dan akhirnya jika klien tidak bisa menyelesaikan soal, klien akan mencontek.
5. Klien merasa takut menghadapi ulangan, karena kurang memahami materi.
6. Klien kurang berkonsentrasi dalam pelajaran,bahkan todak jarang terlihat melamun.
7. Klien tidak akan memperhatikan pelajaran yang dirasa sulit, dan tidak berusaha untuk mencari solusinya.
8. Terlihat kurang aktif dalam kelas.

G. KONFIDENSIAL
Data yang diperoleh sifatnya sangat rahasia dan diisi degan sejujurnya oleh klien, maka sesuai dengan kode etik konselor di sekolah, nama dan identitas yang berkaitan dengan diri klien dibuat fiktif, hal ini bertujuan untuk mengantisipasi jika di kemudian hari ada yang membaca dan mencoba mengetahui data ini, sehingga dapat menjaga perasaan klien agar tidak malu atau merasa rendah diri jika kerahasiaanya diketahui oleh orang lain yang tidak berkepentingan.

BAB II
JABARAN ISI

A. IDENTIFIKASI KASUS
Hal yang pertama kali harus dilakukan untuk mengetahui keadaan siswa yang menjadi klien perlu adanya identifikasi, identifikasi adalah melakukan perincian hal-hal yang merupakan suatu sebab terjadinya kasus yang terjadi pada siswa. Dalam identifikasi ini digunakan berbagai metode untuk mengetahui keseluruhan aspek kehidupan siswa yang bermasalah (klien). Adapun metode yang digunakan yaitu:
1. Angket Pribadi Siswa
Dari angket yang telah diisi oleh siswa, diperoleh data sebagai berikut:
Identitas Siswa
Nama Lengkap : Bunga Citra Lestari (fiktif)
Nama Panggilan : Bunga (fiktif)
Tempat dan tanggal lahir : Malang, 27 Agustus 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Anak Ke : 3
Jumlah Saudara : 2
Alamat sekarang : Jl. Silikat Pandean III No. 27B Malang
Alamat asal : Jl. Silikat Pandean III No. 27B Malang
Tinggal bersama : Orang tua
Sarana ke Sekolah : Angkutan Umum
Asal Sekolah : SMP Negeri 16 Malang
Hobby : Mendengarkan musik
Kegiatan di Luar Sekolah : Bermain bersama teman
Ekskul yang diminati : Pencinta Alam
Ekskul yang diikuti : Pencinta Alam
Suku / bangsa : Jawa / Indonesia

Identitas Ayah
Nama : Eko Sutrisno
Umur : 47 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak bekerja
Penghasilan : -
Hidup/alm : Hidup
Pendidikan : SMP
Identitas Ibu
Nama : Cholifa
Umur : 42 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Penjual baju
Penghasilan : Tidak menentu
Hidup/alm : Hidup
Pendidikan : SMP

Jumlah dan Status Keluarga
Jumlah saudara : 2
Status saudara : Kandung
: Laki-laki 2 orang
: Perempuan 0 orang
Anak ke : 3
Keterangan Belajar dan Pendidikan
1. Pernahkah anda tidak naik kelas sewaktu SD? tidak
2. Pernahkah anda tidak naik kelas sewaktu SLTP? tidak
3. Pernahkah anda tidak lulus dalam ujian? tidak
4. Sebelum anda masuk SMKN 6 Malang, apakah anda telah mengetahui informasi SMK, khususnya SMKN 6 Malang?
[ ] Tidak tahu sama sekali [x] Tahu sedikit
[ ] Umumnya sudah tahu [ ] Tahu dengan detail
5. Jika anda sudah tahu, dari manakah anda mendapatkan informasi tersebut?
[ ] Guru [ ] Tahu sedikit
[ ] Teman [ ] Surat kabar / media massa lainnya
[x] Saudara
6. Sejak kapan anda merencanakan masuk SMK?
[ ] Sejak kecil [ ] Sejak SD [x] Sejak SLTP
7. Apakah alasan anda memilih SMK?
[ ] Untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi
[ ] Mempersiapkan diri ke jenjang perguruan tinggi
[ ] Disuruh orang tua / saudara
[ ] Karena ajakan teman
[ ] Untuk memperoleh pekerjaan
[ ] Mengisi waktu setelah tamat sekolah
[x] Tidak tahu
8. Apakah rencana anda setelah diterima di SMK?
Belajar, menuntut ilmu sebaik mungkin
9. Apakah rencana anda setelah tamat / lulus SMK?
[ ] Melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
[ ] Mencari pekerjaan
[ ] Mencari kursus yang diperlukan untuk mencari pekerjaan
[ ] Membantu pekerjaan orang tua
[ ] Berumah tangga / berkeluarga
[x] Belum tahu
10. Mata pelajaran apakah yang paling anda sukai / senangi?
 Menggambar isometri
 Menggambar garis dan sudut
11. Mata pelajaran apakah yang tidak anda sukai / senangi?
 PDTB
 Matematika
12. Apakah dirumah anda memiliki tempat belajar sendiri?
[x] Ya
[ ] Tidak
13. Menurut penilaian anda bagaimana keadaan tempat belajar anda?
[x] Baik [ ] Sedang
[ ] Kurang baik
14. Siapakah orang yang dapat membantu anda pada waktu belajar di rumah?
Saudara
15. Kapan biasanya anda belajar dirumah?
[ ] Sore hari sepulang sekolah [ ] Siang hari
[ ] Pagi hari sebelum sekolah [x] Malam hari
16. Berapa lama rata-rata anda belajar dalam sehari? 1 jam / hari
17. Apakah hobi anda sekarang?
[ ] Kesenian
[ ] Olah raga
[x] Rekreasi
[ ] Lain-lain
18. Kegiatan apakah yang biasanya anda lakukan diluar kegiatan sekolah?
Bermain bersama teman
19. Bagaimana menurut pendapat anda tentang uji kompetensi yang diadakan oleh sekolah?
[ ] Baik sekali [ ] Merepotkan
[ ] Baik [x] Cukup
20. Keadaan atau kondisi fisik siswa
a. Tinggi badan : 150 cm
b. Berat badan : 47 kg
c. Keadaan alat indera dan organ tubuh lain: normal

2. Daftar Cek Masalah
Problem check list adalah daftar kemungkinan masalah yang disusun untuk merancang masalah yang pernah atau sedang dialami oleh siswa (klien) dengan tujuan agar klien dapat mengetahui masalahnya dengan baik dan memiliki pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi.
Problem chek list yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan menggunakan sebuah daftar kemungkinan masalah yang disusun untuk merangsang/memancing masalah yang pernah atau sedang dialami klien.
Hasil analisa problem check list dan wawancara dengan siswa kasus, yang diperoleh adalah sebagai berikut:

a. Kesehatan
1) Sering keluar keringat dingin
2) Merasa terlalu gemuk
3) Merasa lelah dan tidak semangat 4,3 %
b. Keadaan Kehidupan Ekonomi
1) Sering meminjam uang
2) Uang sekolah terlalu tinggi
3) Ibu/saudara membantu mencari penghasilan
4) Tidak puas dengan keluarga 5,8 %
c. Keluarga
Selalu bertengkar dengan adik/kakak 1,4 %
d. Pribadi
1) Tidak suka menerima tamu
2) Merasa diri kurang/minder
3) Sering merasa curiga dengan orang lain
4) Bersikap kaku dan tidak toleran
5) Sering menyesali diri sendiri
6) Merasa pesimis/tidak punya harapan
7) Ingin lebih menarik 10,1 %
e. Hubungan Sosial dan Organisasi
1) Sering gagal dalam mencari teman
2) Suka bergaul
3) Senang menjadi pusat perhatian
4) Mudah tersinggung
5) Mudah merasa malu
6) Mudah marah 8,7 %
f. Rekreasi, Hobi, dan Penggunaan Waktu
1) Lebih suka buku hiburan daripada buku pelajaran
2) Suka menonton film
3) Tidak dapat menggunakan waktu luang 4,3 %
g. Pelajaran
1) Sukar mendapat buku pelajaran
2) Sulit mengerti materi pelajaran
3) Takut terhadap ulangan
4) Tidak suka belajar
5) Sukar menangkap dan meneliti pelajaran
6) Sukar mempelajari IPA
7) Sering mendapat kesukaran dalam memahami pelajaran
8) Sukar menyesuaikan diri dengan ayah
9) Orangtua suka mencampuri urusan
10) Merasa kurang senang di rumah
11) Kehidupan di rumah kurang teratur 15,9 %
h. Agama dan Moral
1) Tidak pernah bersungguh-sungguh menerima pelajaran agama
2) Malas bersembahyang
3) Tidak bersungguh-sungguh beribadah
4) Sering berkata dusta
5) Sering tidak mengakui kesalahan
6) Ucapan dan perbuatan tidak sesuai
7) Sering mempermainkan orang lain
8) Mudah merasa iba terhadap penderitaan orang lain
9) Sering melupakan milik orang lain yang dipinjam
10) Sangat senang bergaul dengan pria/wanita yang ugal-ugalan
11) Kurang senang terhadap pria/wanita yang pendiam 15,9 %
i. Sekolah
1) Ingin pindah ke kelas lain
2) Peraturan sekolah terlalu menekan
3) Beberapa pelajaran dianggap tidak perlu 4,3 %
j. Kebiasaan Belajar
1) Belajar kalau ada ulangan
2) Belajar tidak teratur waktu
3) Sukar memusatkan pikiran saat belajar
4) Sulit untuk memulai belajar
5) Kalau belajar sering mengantuk
6) Sering menyalin pekerjaan teman
7) Tidak dapat menerapkan cara belajar yang baik 10,1 %
k. Remaja
1) Bercinta dalam masa sekolah dapat menjadi dorongan
2) Mulai tertarik dengan lawan jenis
3) Pernah sakit hati ditinggal pacar
4) Gemar melihat/membaca film yang bernada cinta
5) Terpaksa bercinta sembunyi-sembunyi karena takut orangtua
6) Sering melamun memikirkan si dia
7) Ragu-ragu terhadap pacar
8) Sering bertepuk sebelah tangan 11,6 %
l. Masa Depan
1) Sukar menetapkan pilihan setelah lulus SMK
2) Ingin mengetahui bakat dan kemampuan diri
3) Sering berdebar-debar jika mengingat masa depan
4) Cita-cita saya tidak sesuai dengan kemampuan
5) Kuatir nantinya tidak dapat mandiri dan tidak diterima di sekolah lanjutan 7,25 %

Kesimpulannya adalah 15,9% klien bermasalah pada masalah pelajaran. Jadi studi kasus ini berfokus pada masalah pelajaran.

3. Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan dengan melihat tingkah laku siswa pada saat proses belajar mengajar berlangsung maupun saat jam pelajaran kosong atau diluar jam pelajaran yaitu pada jam istirahat sebelum dan sesudah pulang. Juga melalui media elektronik ketika di luar sekolah.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di dapat:

Observasi Ke : 1
Hari/Tanggal : Jumat, 4 September 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : Gambar Isometri
Pukul : 13.00 – 14.40 WIB
Hasil Pengamatan : Klien terlihat diam, sesekali mencoret-coret bukunya. Klien kurang serius dalam memperhatikan pelajaran.

Observasi Ke : 2
Hari/Tanggal : Jumat, 4 September 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : PDTB
Pukul : 14.40 – 16.00 WIB
Hasil Pengamatan : Klien serius memperhatikan pelajaran, namun pasif dalam pelajaran walaupun sudah didorong untuk aktif oleh guru pengajar.

Observasi Ke : 3
Hari/Tanggal : Jumat, 2 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : Gambar Isometri
Pukul : 13.00 – 14.40 WIB
Hasil Pengamatan : Klien banyak bergurau dengan teman-temannya di kelas. Tidak memperhatikan sama sekali pelajaran yang diajarkan.

Observasi Ke : 4
Hari/Tanggal : Jumat, 2 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : PDTB
Pukul : 14.40 – 16.00 WIB
Hasil Pengamatan : Klien tetap bergurau dengan teman-temannya. Ketika guru pengajar memperingatkan klien, klien terlihat diam, namun selang agak lama klien bergurau lagi tanpa memperhatikan materi pelajaran.

Observasi Ke : 5
Hari/Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : Gambar Isometri
Pukul : 13.00 – 14.40 WIB
Hasil Pengamatan : Klien terlihat diam tanpa aktifitas ketika tidak berkumpul dengan teman-teman kelompoknya.

Observasi Ke : 6
Hari/Tanggal : Jumat, 9 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : PDTB
Pukul : 14.40 – 16.00 WIB
Hasil Pengamatan : Klien terkejut ketika bapak kepala sekolah memberikan sedikit nasehat dari kepala sekolah ketika secara tidak sengaja melihat nilai tugas klien yang jelek.

Observasi Ke : 7
Hari/Tanggal : Jumat, 16 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : Gambar Isometri
Pukul : 13.00 – 14.40 WIB
Hasil Pengamatan : Klien sibuk mengurusi administrasi kelas dengan mondar mandir di kelas, padahal kegiatan belajar sedang berlangsung dan guru sedang menerangkan di depan.

Observasi Ke : 8
Hari/Tanggal : Jumat, 16 Oktober 2009
Tempat : Ruang Kelas X GB2
Pelajaran : PDTB
Pukul : 14.40 – 16.00 WIB
Hasil Pengamatan : Klien terlihat ngobrol dan bercanda dengan teman-temannya, yang ditangkap dari obrolannya adalah masalah hubungan lawan jenis.
Kesimpulannya adalah klien kurang serius dalam pelajaran dan suka bergurau dengan teman-temannya.

4. Wawancara
Wawancara adalah alat pengumpul data yang berhubungan secara langsung dengan klien tersebut. Hasil wawancara berdasarkan apa yang diungkapkan klien sebagai berikut:
WAWANCARA I

1. Adik kenapa sulit mendapat buku pelajaran?
Jawaban : uang untuk beli sich sudah dikasih, tapi dipakai untuk keperluan lain
2. Adik tidak suka pelajaran apa?
Jawaban : PDTB pak
3. Kenapa dik?
Jawaban : pelajarannya ngitung terus, bapak ngajar juga jarang memperhatikan kita yang kesulitan
4. La bapak kan dah ngasih pertanyaan, sapa yang gak bisa?
Jawaban : ya pak, tapi ya gitu
5. Adik belajar tiap hari berapa jam?
Jawaban : jarang belajar pak, kalau belajar ya 1 jam paling, itupun kalau mo ulangan

WAWANCARA II

1. Adik pernah menyelewengkan uang sekolah nggak?
Jawaban : pernah sih kadang-kadang.
2. Biasanya adik pake untuk apa uangnya?
Jawaban : kadang di pake buat jalan-jalan atau jajan, kadang juga tiba-tiba habis lupa buat apa.
3. Orang tua tau tentang hal itu nggak?
Jawaban : nggak.
4. Trus kalo ada kesulitan, misalnya uang sekolah harus dibayar padahal uangnya sudah habis gimana dik?
Jawaban : biasanya pinjam teman untuk sementara.
5. Adik ngembaliin uangnya pake uang apa?
Jawaban : bohong sama orang tua, minta uang buat bayar apa gitu, ato bohong buat beli buku.
6. Kok sampe pake uang sekolah dik, emang uang sakunya kurang ya?
Jawaban : ya kalo dibilang kurang sih ya nggak, tapi kan kalo pengen nonton ato pengen beli apa gitu nggak punya uang, jadi ya terpaksa pake uang sekolah.
7. Oya dik kalo adik menemui kesulitan pelajaran gimana cara mengatasinya?
Jawaban : biasanya tanya teman yang bisa.
8. Dengan tanya teman bisa ngerti dik?
Jawaban : nggak
9. Trus gimana?
Jawaban : ya kalo ada PR ato ulangan nyontek punya teman.
10. Kenapa nggak tanya sama gurunya aja biar lebih jelas?
Jawaban : malu pak. Nanti kesannya kaya anak bodoh aja tanya-tanya.
11. Adik lebih dekat dengan ibu atau bapak?
Jawaban : ibu
12. Sama bapak gimana?
Jawaban : nggak terlalu dekat
13. Kenapa?
Jawaban : ya kurang nyaman aja kalo ngobrol sama bapak.
14. Nggak nyaman gimana maksudnya dik?
Jawaban : ya pokoknya nggak nyaman aja pak, namanya juga nggak nyaman kok.
15. Bapak berusaha dekat sama adik nggak?
Jawaban : iya, tapi aku males nanggepi.
16. Lo kok gitu?
Jawaban : bapak itu selalu ikut campur trus tanya-tanya yang nggak penting.
17. Adik bisa dekat sama ibu, kenapa sama bapak nggak?
Jawaban : ya kalo sama ibu tu bisa ngomong bebas.

Kesimpulannya adalah klien terkadang menggunakan uang jatah yang diberikan orang tua untuk memuaskan keinginannya, seperti jalan-jalan atau jajan. Klien lebih dekat dengan ibunya daripada bapaknya. Wawancara yang dilakukan oleh dinni saputri kepada klien menyebutkan bahwa klien ingin masuk RPL SMK Negeri 6 Malang.
B. DIAGNOSIS
Diagnosis merupakan tahap untuk menentukan hakekat masalah yang dihadapi siswa yang bermasalah (klien). Adapun tujuan diadakan diagnosis ini adalah untuk menemukan dan mengetahui jenis kesulitan dan latar belakang kesulitan yang dihadapi oleh klien. Sehingga diperoleh hakekat masalah yang diperoleh oleh klien.
Permasalahan yang dihadapi oleh klien antara lain:
Masalah Sebab
 Malas belajar

 Salah jurusan yang ditempuh

 Kurang bisa memanfaatkan waktu luang untuk belajar

 Hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua

 Rendahnya motivasi siswa Pelajaran banyak yang kurang digemari dan tidak sesuai hobi
Tidak di terima di jurusan yang diinginkan, akhirnya dengan terpaksa memilih jurusan yang sekarang di tempuh
Waktu luang sering digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat. Contohnya bergurau dengan teman sekelasnya
Kurang harmonis dengan bapak, klien merasa tidak tenang berkomunikasi dengan bapaknya
Tidak minat dengan jurusan yang ditempuh

C. PROGNOSIS
Prognosis ini merupakan tahap memprediksi kerangka-kerangka permasalahan yang terjadi jika masalah klien tidak segera dibantu atau jika segera dibantu.
Adapun beberapa kemungkinan apabila masalah-masalah yang dihadapi klien bisa diselesaikan, yaitu :
1. Prestasi klien akan meningkat.
2. Klien menyukai jurusan yang ditempuh dan semangat belajarnya akan naik
3. Waktu belajar dan bermain akan seimbang
4. Hubungan dengan orang tua menjadi harmonis.
5. Klien akan bersemangat dalam menerima pelajaran dan dapat berkonsentrasi.
Sedangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi apabila masalah yang dihadapi klien tidak bisa diselesaikan, yaitu :
1. Prestasi klien akan menurun.
2. Klien tidak menyukai jurusan yang ditempuh dan semangat belajarnya akan menurun
3. Waktu belajar dan bermain tidak teratur
4. Hubungan dengan orang tua menjadi tidak harmonis.
5. Klien tidak akan bersemangat dalam menerima pelajaran dan tidak dapat berkonsentrasi.

D. RENCANA PEMBERIAN BANTUAN (TREATMENT PLANNING)
Rencana tentang jenis bantuan ini dilakukan untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang dialami klien. Rencana jenis bantuan yang akan diberikan adalah:
 Mengajarkan kepada klien untuk berkonsentrasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran di sekolah
 Membangun motivasi untuk menyukai jurusan yang ditempuh
 Membelajarkan siswa membuat daftar waktu untuk belajar
 Membelajarkan kepada klien untuk memahami orang tua, contohnya memberitahu tentang suka duka orang tua mengurus keluarga
 Menginformasikan tentang kelebihan-kelebihan yang ada pada jurusan bangunan

E. PEMBERIAN BANTUAN (TREATMENT)
Setelah diketahui dari bab-bab sebelumnya tentang kondisi siswa klien bersama dengan permasalahannya, langkah selanjutnya yaitu pemberian bantuan pada siswa klien demi peningkatan prestasinya di waktu yang akan datang.

Pemberian bantuan (treatment) yang berhasil diberikan pada klien, antara lain:
1. Mengajarkan kepada klien untuk berkonsentrasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran di sekolah. Pada waktu pelajaran PDTB, penulis mendekati klien dan memberikan nasehat tentang kesulitan klien memahami materi pelajaran yang lain, apabila pelajaran dasar seperti PDTB tidak dikuasai.
Sebab, klien menyimak dengan baik pelajaran PDTB
2. Membangun motivasi untuk menyukai jurusan yang ditempuh. Pada waktu materi pelajaran gambar isometri Bapak Erik dengan dibantu penulis secara khusus mengajarkan program aplikasi autodesk revit. Penulis mendekati klien dan berdiskusi tentang materi autodesk revit ini.
Sebab, klien ingin mempelajari lebih jauh pelajaran di jurusan gambar bangunan
3. Membelajarkan siswa membuat daftar waktu untuk belajar. Pada hari kamis tanggal 29 Oktober 2009 penulis menyuruh klien membuat daftar waktu untuk belajar dan menjelaskan tentang fungsi dari daftar tersebut.
Sebab, klien membuat daftar waktu untuk belajar dengan baik
4. Membelajarkan kepada klien untuk memahami orang tua, contohnya memberitahu tentang suka duka orang tua mengurus keluarga. Pada hari kamis tanggal 29 Oktober 2009 penulis menjelaskan kepada klien, bagaimana orang tua itu dengan susah payah mengurus keluarga, klien sebagai anak harus selalu menghormati orang tua.
Sebab, Klien sudah sedikit terbuka untuk menghormati orang tua
5. Menginformasikan kepada klien tentang kelebihan-kelebihan yang ada pada jurusan bangunan. Pada waktu istirahat, penulis memberitahukan kepada klien kalau jurusan bangunan mempunyai banyak peluang kerja, seperti menjadi arsitek, drafter, estimator, dan pemilik perusahaan konstruksi.
Sebab, klien bersemangat dalam menanyakan peluang-peluang tersebut.

F. TINDAK LANJUT (FOLLOW UP)
Follow up adalah usaha yang dilakukan oleh konselor untuk mengikuti perkembangan klien setelah diberikan bantuan. Follow up/tindak lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah layanan bimbingan berhasil atau tidak. Tujuan dari tindak lanjut adalah untuk mengetahui keberhasilan diagnostik kesulitan belajar dan usaha bantuan yang telah diberikan.
Untuk mengetahui hasil treatment yang berhasil dilakukan pada klien, penulis membuat observasi lanjutan. Observasi lanjutan dilakukan dengan cara wawancara, sebagai berikut :
WAWANCARA 1
1. Dik bagaimana pelajaran PDTB? Nanti pak saleh lo yang ngajar
Jawaban : masih belum ngerti-ngerti pak
2. Ini pelajaran dasar lo, kesulitan nanti adek menguasai pelajaran yang lain
Jawaban : ya sich pak, tapi gimana lagi, udah usaha tetep kesulitan
3. Ya udah, tetep semangat dan terus belajar
Jawaban : ya pak
4. Trus gimana dengan autodesk revit yang kemarin?
Jawaban : pengen mendalami lagi pak, tapi gak ada gurunya
5. Yadah nanti insyaallah minggu kedua bulan november ada demo dari B3S tentang revit itu, ikuto!
Jawaban : ya ta pak?hari apa pak?
6. Bapak gak tau, nanti ada info menyusul dari Pak Erik. Tetep semangatkan di gambar bangunan?
Jawaban : ya pak
7. Tak doain sukses di gambar bangunan nanti
Jawaban : amin. Trima kasih pak

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa treatment telah berhasil dijalankan, namun untuk treatment mengajarkan kepada klien untuk berkonsentrasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran di sekolah, klien sudah berusaha namun hasilnya belum terlihat.

WAWANCARA 2
1. Gimana dik, jadual belajarnya bisa dilaksanakan tiap hari?
Jawaban : gak pak
2. Lo kenapa?
Jawaban : lupa pak buka jadualnya
3. Kok gitu, adik udah bisa memahami orang tua adik?
Jawaban : udah pak
4. Orang tua tu yang membesarkan kita
Jawaban : ya pak

Dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa treatment kurang berhasil dijalankan, klien tidak menggunakan daftar waktu untuk belajar dengan baik. Namun klien sudah berusaha untuk dapat memahami fungsi dan tanggung jawab orang tua terhadap keluarga.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Permasalahan siswa di SMK Negeri 6 Malang tergolong sangat berat, disebabkan banyak siswa tidak naik kelas karena sering membolos sekolah. Juga banyak siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah, seperti memakai seragam yang tidak sesuai dengan ketentuan dan banyak siswa yang merokok di warung depan sekolah
2. Identifikasi kasus dapat diartikan sebagai suatu usaha atau cara yang dilakukan sebagai langkah awal dalam kegiatan layanan studi kasus kepada siswa. Kriteria yang dipakai dalam menemukan klien/siswa yang mempunyai masalah dalam penyusunan layanan bimbingan ini, adalah:
a. Malas belajar
b. Salah jurusan yang ditempuh
c. Kurang bisa memanfaatkan waktu luang untuk belajar
d. Hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua
e. Rendahnya motivasi siswa
3. Metode yang digunakan dalam studi kasus ini, antara lain angket data pribadi siswa, observasi/pengamatan, wawancara, daftar cek masalah (DCM), dan checklist kebiasaan belajar.

4. Diagnosis Kasus
Diagnosis merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengetahui letak kesulitan, serta latar belakang masalah yang dihadapi siswa. Dari hasil pengumpulan data didapatkan bahwa latar belakang kesulitan belajar klien dapat dikelompokkan menjadi:
a. Mengetahui lokasi kesulitan siswa.
b. Mengetahui jenis kesulitan yang dihadapi siswa.
c. Mengetahui latar belakang kesulitan yang dialami siswa.
Dari data angket, wawancara dan observasi, dapat dirumuskan masalah pokok yang dialami siswa, sebagai berikut:
a. Malas belajar
b. Salah jurusan yang ditempuh
c. Kurang bisa memanfaatkan waktu luang untuk belajar
d. Hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua
e. Rendahnya motivasi siswa
5. Rencana Jenis Bantuan
Rencana tentang jenis bantuan ini dilakukan untuk membantu mengatasi masalah-masalah yang dialami klien. Rencana jenis bantuan yang akan diberikan adalah:
a. Mengajarkan kepada klien untuk berkonsentrasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran di sekolah
b. Membangun motivasi untuk menyukai jurusan yang ditempuh
c. Membelajarkan siswa membuat daftar waktu untuk belajar
d. Membelajarkan kepada klien untuk memahami orang tua, contohnya memberitahu tentang suka duka orang tua mengurus keluarga
e. Menginformasikan tentang kelebihan-kelebihan yang ada pada jurusan bangunan
6. Pemberian Bantuan (Treatment)
Pemberian bantuan (treatment) yang berhasil diberikan pada klien, antara lain:
1. Mengajarkan kepada klien untuk berkonsentrasi dalam belajar dan mengikuti pelajaran di sekolah. Pada waktu pelajaran PDTB, penulis mendekati klien dan memberikan nasehat tentang kesulitan klien memahami materi pelajaran yang lain, apabila pelajaran dasar seperti PDTB tidak dikuasai.
Sebab, klien menyimak dengan baik pelajaran PDTB
2. Membangun motivasi untuk menyukai jurusan yang ditempuh. Pada waktu materi pelajaran gambar isometri Bapak Erik dengan dibantu penulis secara khusus mengajarkan program aplikasi autodesk revit. Penulis mendekati klien dan berdiskusi tentang materi autodesk revit ini.
Sebab, klien ingin mempelajari lebih jauh pelajaran di jurusan gambar bangunan
3. Membelajarkan siswa membuat daftar waktu untuk belajar. Pada hari kamis tanggal 29 Oktober 2009 penulis menyuruh klien membuat daftar waktu untuk belajar dan menjelaskan tentang fungsi dari daftar tersebut.
Sebab, klien membuat daftar waktu untuk belajar dengan baik
4. Membelajarkan kepada klien untuk memahami orang tua, contohnya memberitahu tentang suka duka orang tua mengurus keluarga. Pada hari kamis tanggal 29 Oktober 2009 penulis menjelaskan kepada klien, bagaimana orang tua itu dengan susah payah mengurus keluarga, klien sebagai anak harus selalu menghormati orang tua.
Sebab, Klien sudah sedikit terbuka untuk menghormati orang tua
5. Menginformasikan kepada klien tentang kelebihan-kelebihan yang ada pada jurusan bangunan. Pada waktu istirahat, penulis memberitahukan kepada klien kalau jurusan bangunan mempunyai banyak peluang kerja, seperti menjadi arsitek, drafter, estimator, dan pemilik perusahaan konstruksi.
Sebab, klien bersemangat dalam menanyakan peluang-peluang tersebut.
B. Saran
Dari hasil analisis layanan bimbingan siswa ini, penulis menyarankan kepada:
a. Siswa Kasus
1. Siswa hendaknya selalu berusaha mempelajari materi pelajaran yang berhubungan dengan perhitungan, karena perhitungan merupakan dasar dari teknik kejuruan
2. Siswa hendaknya berusaha untuk menyukai jurusan yang ditempuh, karena siswa sudah berkecimpung dengan jurusan gambar bangunan
3. Siswa selalu memperhatikan daftar waktu untuk belajar yang telah dibuat
4. Siswa hendaknya bisa bersikap lebih baik dan terbuka dengan orang tuanya agar setiap masalah bisa didiskusikan dan mendapat persetujuan atau nasehat dari orang tua.
5. Siswa hendaknya
b. Konselor Sekolah
Pihak konselor sekolah hendaknya terus memberikan layanan bimbingan pada siswa klien dalam kasus ini. Khususnya untuk lebih membangkitkan motivasi dan rasa percaya diri siswa klien pada jurusan yang ditempuhnya, yang pada akhirnya akan meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran.
c. Orang Tua
Orang tua hendaknya lebih bisa melakukan pendekatan kepada siswa, agar tercipta hubungan yang harmonis antara kedua orangtua siswa dengan siswa itu sendiri.
d. Guru Mata Pelajaran / Wali Kelas
Guru pengajar dan wali kelas sebaiknya memberikan perhatian dan nasehat pada klien untuk dapat lebih terbuka, memotivasi dan memperhatikan klien serta menciptakan hubungan kekeluargaan dengan para siswanya.

DAFTAR PUSTAKA

Partowisastro. 1992. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Jakarta: Erlangga.
Unit Program Pengalaman Lapangan IKIP MALANG. 1983. Pedoman Pengalaman Lapangan Praktek Pendidikan. Malang : IKIP MALANG.
UPT Program Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Malang. 2009/2010. Buku Petunjuk Pelaksanaan Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Keguruan Universitas Negeri Malang. Malang: UPT PPL UM.
Wikipedia. 2009. Pendidikan, (Online), (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan, diakses 16 Oktober 2009).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s